this is me

Posts tagged “yogyakarta

Jogja bersalju?

Hari jumat, tanggal 13 febuari 2014 pukul 22.50 Gunung Kelud Jawa Timur meletus, saya mendengar dentuman 3 kali padahal jarak Jogja gunung kelud lebih dari 250 km!

Hujan abu mengelimuti kota ini sejak hari itu juga, bahkan lebih tebal daripada letusan merapi 2010 silam.

Tapi inilah Jogja, kota dengan sejuta keindahan. Walau di deru hujan abu, kota ini masih bisa menampilkan keindahan dengan caranya sendiri, sebagai contoh foto ini saya ambil di jemabtan kali code di Jalan Sudirman Jogja tanggal 15 febuari 2014 jam 18.17 dan lihatlah seperti layaknya kartu pos dari sebuah pedesaan bersalju. Padahal ini adalah foto dimana Jogja sedang terselimuti oleh abu vulkanik dari gunung kelud.

Jogja.. memang istimewa!

salam dari jogja… 🙂


STUDIONE SINTEN: “Sebuah wisata mesin waktu romantisme Jogja tempo dulu”

“Jadul banget fotonya” demikian komentar konsumen setelah melihat hasil fotonya di kamera saya.

Studione SINTEN, adalah studio foto nuansa tradisionil Jogja tempo dulu yang baru dibuka lebaran tahun 2013 silam. Studio berkonsep Jogja tempo dulu ini berisikan barang2 antik aseli dari jaman dulu seperti gebyok / pintu dari abad 18, meja kursi lawasan, radio Biampli phillips, sepeda onthel gazele, mesin ketik, jam dinding mauthe, junghans, lemari naga, lampu kerek dan juga mainan2 bocah tempo dulu seperti: kuda lumping antik, suling, boneka lawas dan berbagai mainan tradisional lainnya.

Studio berukuran sekitar 4 x 5 m ini memanfaatkan semua sisinya sebagai latar belakang / background foto. Memang agak berbeda dari kebanyakan studio foto yang menggunakan kain sebagai backgroundnya karena di studione Sinten kami ingin menghadirkan suasana seperti keadaan aselinya pada jaman dahulu. Tidak hanya background tapi juga tata letak dan ornamen2 kecilpun disesuaikan dengan keadaan aselinya. Termasuk baju-baju ala Jogja tempo dulu seperti batik lawasan kami sediakan, tinggal pake untuk foto dan gratis. Tidak ketinggalan teknik foto dan olahan warna juga kami sesuaikan dengan konsep jadul  alias tempo dulu. Sampai-sampai beberapa konsumen berkata: “Ini seperti mesin waktu, karena dapat mengembalikan suasana dan kenangan Jogja tempo dulu”.

Jogja memang identik dengan tempo dulu, kota yang bersahaja – syahdu dengan segala budaya dan kearifan lokalnya. Kini Jogja telah berubah. Jogja yang dulu dikenal dengan arstitektur jawa-belandanya kini diserbu oleh ratusan hotel dan ruko dengan gaya arstitek yang NNB: ‘Nggak Njogjani Banget!”, belum lagi serbuan iklan / reklame dimana-mana yang menimbulkan sampah visual yang merusak pemandangan kota ini. Inilah salah satunya alasan kenapa studione Sinten dibangun, kami ingin mempertahankan ciri khas kota ini dalam skala kecil dari sudut pandang kami: tukang foto. Kami ingin para pengunjung merasakan bagaimana rasanya duduk2 ala Jogja tempo dulu sambil di foto, ya seperti foto dirumah sendiri, begitulah konsep fotonya. Karena inilah banyak wisatawan yang menjadwalkan liburan ke Jogja dengan berkunjung ke studione Sinten, sehingga menjadikannya sebagai tujuan wisata yang baru di Jogja.

Tampak depan studione sinten seperti gambar dibawah ini, terlihat dari perempatan Tugu Jogja 🙂

Aasinten front

Lokasinya persis sebelah barat tugu Jogja:

SONY DSC

Berikut ini beberapa contoh foto tradisionil ala Jogja tempo dulu:

This slideshow requires JavaScript.

 

Ingin mencoba tamasya mesin waktu ala studione sinten? monggo mampir ke

Studione Sinten

studio foto jang bernoeansa tradisionil Djogja tempo doeloe

Jl. Diponegoro 1B Yogyakarta 55232

Info: Tel 0274 54 4567  –  SMS | WA 08999 250 430  –  pin BB 2977 406A

galeri foto ada di facebook: studionesinten

Buka setiap hari mulai jam 11.00 – 22.00

 

Salam jadul… ^_^


cek mention

cek mention by toing djayadiningrat
cek mention, a photo by toing djayadiningrat on Flickr.

Seorang teman mengundang saya untuk melihat pameran sekar jagad yaitu pameran batik keraton yogyakarta di puro pakualaman yogyakarta. Dan kali ini cukup istimewa karena saya bisa datang di hari pertama pameran dimana hanya tamu undangan khusus yang bisa datang. Pameran ini diadakan selama 3 hari, dimana 2 hari terakhir dibuka untuk umum.

Disela-sela pameran saya lihat sekelompok sepuh yang sedang memainkan gamelan dengan sangat lihainya, sehingga saya sempat terpaku untuk melihat mereka memainkan gamelan tersebut. Dan pada saat rehat sejenak saya lihat seorang bapak penabuh gendang tiba-tiba mengeluarkan ponselnya untuk sekedar mencek mention2nya hehehe..

Buat saya ini adalah momen unik dan segera saja saya menjepretnya dengan kamera yang sudah ‘on’ ditangan saya.

Pin BBnipun pinten pak? 🙂


warna warni jogja

Jogjakarta, dulu sewaktu saya masih kecil di CIlacap mendengar kabar tentang kota Jogja adalah kotanya mahasiswa bahkan disebut sebagai Indonesia mini. Karena warga yang berasal dari berbagai macam suku, golongan dan agama tinggal damai di Jogja.

Setalah saya tinggal di Jogja ternyata benar walau banyak perbedaan disini tapi Jogja relatif tenang dan damai.
Dan saya ingin merepresentasikan Jogja dengan foto ini: warna warni Jogja.

Edited: setelah foto ini tayang di flckr dan WP banyak yang mengira bahwa saya membeli beberapa balon kemudian meletakannya di dekat lampu jogja dan memotretnya hehehe… sayangnya pendapat itu salah. Foto ini 100% street hunting with no directing at all. Kala itu saya sedang berkumpul sore2 dengan teman2 fotografi di alun2 utara Yogyakarta, ceritanya mau hunting sekatenan dan sunset. Sehabis jeprat jepret kami duduk dipinggiran alun2 yg kala itu anginnya kuenceng banget. Tiba2 mata saya tertarik pada sekumpulan penjual mainan anak2 dipinggiran alun2 yang salah satunya menjajakan balon udara ini. Saya langsung lari mendekat sambil “mengincer’ sudut terbaik untuk memotret balon ini, eeee.. ternyata disitu ada lampu jogja yang baru saja menyala dan jepret! Saya mengambil sekitar 8 jepretan dan hanya ini yang terbaik, kenapa? karena saat itu matahari sudah mulai gelap dengan lensa bukaan f4.0 otomatis speednya drop ditambah angin yang kenceng yg membuat balon2 ini bergerak kesana kemari. Dan satu lagi sebenarnya ada 2 lagi foto yang jelas hanya saja langitnya tidak secerah foto ini karena hanya dalam beberapa detik kala itu tiba2 langit menjadi gelap.

Selamat berburu foto 🙂

Damailah kotaku, sejahteralah kotaku.
Peace… 🙂


vintage morning @ kotagede

Lewat foto ini saya mencoba mengajak anda merasakan suasana pagi dan hiruk pikuk kota tua: Kotagede Yogyakarta, Indonesia.

Kotagede adalah sebuah kota tua kecil di pinggiran kota Yogyakarta. Kerajinan perak dari kota ini sangat terkenal di seluruh dunia karena keunikan desainnya. Lorong-lorong pemukiman kota ini sangat indah diabadikan. Semoga postingan kedepan saya bisa menyajikannya untuk anda


Merry Christmas and Happy Bokeh

Merry Christmas and Happy Bokeh 😀

Selamat merayakan hari Natal…. dengan bokeh2 ceria hasil jepretan dengan lensa mamiya sekor SX 55/1.8 di KM 0 Jogjakarta dengan objek2 lampu taman yang diimajinasikan sebagai pohon natal


worldwidemoment 11-11-11 at 11:11(NY) or 23:11(WIB)

worldwidemoment ada lagi… worldwidemoment adalah momen dimana kita mengabadikan foto apa saja pada waktu yang sama diseluruh dunia pada waktu yang sama, misal tahun lalu waktunya adalah tanggal 10 bulan 10 tahun 2010 pukul 10:10 GMT, jika saya di Yogyakarta maka waktunya dikonversikan menjadi pukul 17:10 WIB dan ini hanya terjadi sekali dalam seumur hidup!

setelah mengikuti worldwidemoment tahun lalu 10-10-10 @10:10 GMT / 17:10 WIB dan thanks God foto saya terpilih bersama 50 fotografer dunia untuk dipublikasikan di snapixel untuk majalah edisi spesial worldwidemoment 2010

Nah tahun ini, saya pikir kegiatan ini tidak ada karena beberapa kali saya berkunjung ke websitenya tapi tidak ada update pengumuman apa2. Kemudian tiba2 tanggal 9 November 2011 saya diemail oleh director WWM2011 memberitahukan bahwa kegiatan WWM2011 diadakakan tapi dengan pusat waktu yang berbeda. Kalo dulu pusat waktunya adalah greenwich dan sekarang mungkin karena panitianya ada di New York maka pusat waktu kegiatan ini di tentukan di New York 11-11-11 at 11:11 EST (New York time) jika dikonversikan ke Yogyakarta menjadi jam 23:10 WIB.

Saya memutar otak dalam waktu yang sempit ini bagaimana mengabadikan wwm yang hanya sekali terjadi seumur hidup ini. Tahun lalu saya ingin menceritakan pada dunia apa yang terjadi di daerah Tugu Jogja pada pukul 10:10 GMT / 17:10 WIB. Nah tahun ini Jogja kebagian konversi jamnya menjadi 23:10 WIB widiih hampir midnight tuh, moto apa coba? Saya muter2 Jogja cari inspirasi, bahkan sampe jam 12 malam masih muterin Jogja siapa tau dapet wangsit sambil test foto sana sini. Sampe sehari sebelum waktunya tiba, saya iseng jalan ke malioboro trus pulangnya saya melawan arus lewat jalan mangkubumi (jangan ditiru ya hihihi..) nah pas lewat jl mangkubumi ini tiba2 saya dapat inspirasi, dan ini dia inspirasinya:

yup sebuah jam antik yang saya kira udah gak jalan lagi ternyata masih jalan! maklum dulu pertama kali ke Jogja tahun 1988 jam ini sudah terlihat tua didepan sebuah toko buku tua di jalan mangkubumi Jogja. Nah ini dia ide untuk WWM2011: saya ingin membuktikan bahwa saya benar2 memotret pada jam itu (tidak hanya terlihat di data exif) dan benar2 ada di Jogja, dan inilah hasilnya:

Sudut pengambilan dirancang dari arah selatan dan low angle dimaksudkan supaya terlihat jelas tulisan jogja dan bayangan jarum besar tepat di angka 11. Sebenarnya sudut ini dimabil supaya bulan purnama terlihat disisi kanan atas tapi ternyata lensannya kurang wide jadinya gak keliatan deh bulannya 🙂 Difoto pake kamera Sony A200 | Yashica ML 50/1.4 | f1.4 | 1/30s | iso100 | 3500K + tripod + kacang goreng buat snack sambil nungguin jamnya 🙂

dan ini hasil screen capture dari websitenya worldwidemoment:

hehehe lumayanlah udah ikut partisipasi 2 kali dalam WWM yang sudah 3 kali diadakan sejak 2009, barusan juga diemail oleh 11-11-11-project katanya fotoku masuk dalam buku mereka yang versi cetak 🙂 11-11-11project ini lebih komplit karena mengabadikan foto, audio dan video yang terjadi pada 11-11-11 @11:11 EST

Jangan lupa ikut yang tahun depan ya, karena tahun depan adalah yang terakhir yang baru bisa diulang 1000 tahun lagi 😀

selamat berkarya