this is me

Posts tagged “fotografi

Portrait kuda

Malioboro horse by toing djayadiningrat
Malioboro horse, a photo by toing djayadiningrat on Flickr.

Terkadang teman2 saya bertanya: “Bingung mau motret apa lagi ya?” sepertinya stok model sudah dihabiskan semuanya 😀

Saya selalu menekankan fotolah obyek2 disekitaran kita, foto bagus tidak harus model kok. Jika komposisi dan ambient lightnya pas, bisa jadi obyek foto yang menarik untuk dilihat.

Suatu sore saya berjalan di jalan malioboro jogja, bukan pertama kalinya saya lihat kuda di malioboro. Tapi kali ini saya tertantang untuk memotret kuda dengan harapan menjadi foto yang menarik. Pas waktu itu adlah menjelang senja jadinya langit masih biru dan lampu2 toko mulai menyala.

Saya mencoba memotretnya dari depan dengan background warna warni dibelakangnya, dan hasilnya taraaa…. ok juga hehehe…

kamera sony
FL 50mm

selamat mencoba


bedah buku: Directing by AHD

Buku fotografi adalah salah satu tema buku langka di era 80-90an tapi setelah era digital fotografi mendadak buku tentang fotografi berjibun jumlahnya di toko buku. Kasusnya mirip dengan buku desain grafis yang dulu sangat langka tapi sekarang jumlah judulnya luar biasa. Ini terjadi karena digital fotografi berkembang selaras dengan perkembangan digital imaging yang merupakan cabang dari desain grafis. Coba ingat, yang dulu yang belajar Adobe Photoshop versi 2 atau 3 dijamin gak bakalan nemu buku “Belajar Photoshop 3” atau “Digital Imaging Dengan Photoshop 2” atau “Membuat logo dengan Corel Draw 3” di toko buku lokal kan? Tapi sekarang buku yang membahas photoshop CS series barangkali ada  1000 judul 🙂 Demikian juga dengan buku fotografi, jaman dulu seingat saya tip dan trik hanya di dapat dari majalah fotografi atau seminar2 fotografi. Jarang sekali yang membahas tentang trik fotografi manual di jaman itu dalam bentuk buku. Tapi sekarang, wuiih buku fotografi di satu toko buku aja ada 2 rak dengan ratusan judul!

Tapi sayangnya ada kesamaan diantara pesatnya perkembangan kedua jenis buku tersebut yaitu isi / konten yang dibahas mirip2 satu dengan yang lain, bahkan itu-itu saja.

Buku fotografi yang saya suka adalah jenis photobook, dimana buku tersebut hanya memuat karya2 foto dari salah satu fotografer. Kenapa saya menyukai photobook? Karena dari karya foto saya bisa belajar banyak. Nah photobook jumlahnya di Indonesia termasuk sangat sedikit dan sayangnya tergolong buku  muahal 😦

Nah, kira-kira 2 bulan yang lalu: Aryono Huboyo Djati yang biasa saya panggil pak Djati atau om AHD memberitahukan dalam sebuah pertemuan singkat di Jogja bahwa dia sedang membuat sebuah buku. Wah terus terang saya menunggu2 buku tersebut di terbitkan karena saya suka dengan gaya pemotretan AHD yang berkarakter sangat kuat yang bercirikan AHD banget 🙂 Aryono Huboyo Djati, siapa tuh? Buat yang belum tahu, om AHD ini selain fotografer dia adalah seorang komposer terkenal. Lagunya yang sangat terkenal adalah “Burung Camar” yang dinyanyikan Vina Panduwinata dan “Lirih” adalah lagu terakhir yang dinyanyikan oleh alm. Chrisye sebelum wafat. Pak Djati juga fotografernya pak JK wakil presiden kita dulu. Gayanya yang sederhana dan foto2nya berkarakter kuat membuatnya menjadi panutan untuk foto2 saya, thanks pak Djati, you’re my inspiration..

Buku pertama dari 3 buku yang rencananya akan diterbitkan adalah berjudul: “DIRECTING” setebal 136 halaman yang diterbitkan oleh Gramedia grup. Buku ini merupakan kolaborasi dari knowledge book dan photo book.

Disini AHD menunjukan kepiawaiannya mendirect sahabatnya Atalarik Syach yang juga  pemenang aktor terbaik Panasonic Global Award 2011 sebagai model dalam bukunya kali ini. Gaya AHD yang khas dan berkarakter kuat dikupas rahasianya dibuku ini.

Dalam buku ini AHD mengajarkan teori dasar fotografi yang dikupas sederhana tapi jelas tajam dalam bentuk foto-foto yang diberi sedikit sentuhan teori fotografi seperti: The Rules od Third, Elemen Penyeimbang, Leading Lines, Pola & Simetris, Sudut Pandang, Latar Belakang, Depth of Field, Framing, The Rules of Odds, The Rules of Space dan Komposisi.

Elemen penyeimbang:

.

Latar belakang:

.

The Rules of Odds

.

The Rules of Space

.

Pola & Simetris

.

Ada juga beberapa istilah yang mungkin asing di telinga kita, tapi AHD menjelaskannya dalam buku ini begitu simpel sehingga sangat mudah untuk dimengerti dan dipraktekan seperti: Leading lines, Ad Lib of third, Ad Lib of Space, Ad Lib of Odds, Potret, Teori Gestalt.

Leading lines:

.

Teori Gestalt

.

Ad Lib of Space

.

Di sebagian kalangan fotografi, konsep directing seringkali dianggap tabu dengan alasan tidak alamiah dan kurang spontan maka directing sering diabaikan bahkan ditolak. Tapi lewat buku ini AHD membuka wawasan tentang pentingnya konsep directing dalam fotografi. Directing ala AHD meliputi beberapa hal seperti: komunikasi dengan subyek, persiapan pose, bahasa tubuh, menangkap dinamika perasaan, mengenal modelnya, menciptakan moment, I believe in God the Almighty Creator, Passion, Patience dan pencahayaan.

.

Pada bab terakhir AHD menjelaskan pentingnya memilih tempat yang baik untuk pemotretan, tidak semua tempat menarik bisa menjadi pilihan terbaik untuk  pemotretan. Disini juag dijelaskan pentingnya menggunakan pencahayaan alami dan mempersiapkan alternatif tempat.

Pencahayaan alami:

.

Foto saat peluncuran buku tanggal 21 Desember 2011 di Gramedia:

.

pak Aryono Huboyo Djati / AHD menunjukan bukunya:

.

penulis bersama pak djati /AHD (kiri)

Kesimpulan saya:

RECOMMENDED PHOTOGRAPHY BOOK!

Buat saya ini buku fotografi yang berbeda, yang smart karena merupakan photobook yang diberi sedikti teori tapi berbobot. Tidak terlalu banyak kata-kata tapi seimbang dengan hadirnya contoh-contoh foto yang menerangkan lebih banyak dari pada teori-teori fotografi yang ada di buku ini. Lewat sampel foto2nya AHD menantang pembacanya untuk membuat karya foto yang lebih baik lagi, walaupun ada beberapa istiah yang tidak lazim didengar tapi lewat pemaparan AHD yang sederhana dan sampel foto yang menerangkan teori2 tersebut membuat pemahaman akan istilah2 tersebut sangat mudah untuk dipahami.

Penasaran isinya lebih lanjut? Silahkan ke toko buku terdekat

Selamat membaca dan berkarya..

.

Foto-foto copyrights ©2011 Aryono Huboyo Djati | All rights reserved

sumber foto: AHD


Belajar fotografi ala SLR

Ajarin dong om… begitulah kata2 yang biasanya diucapkan ketika seseorang melihat sebuah karya foto yang bagus kepada sang empunya foto.

Fotografi itu adalah melukis dengan cahaya, bukan asal jepret! Semua ada ilmunya dan bisa dipelajari.

Belajar motret itu sama persis belajar melukis: tetapi bukan berarti membeli kanvas dgn ukuran sama, membeli kuas dgn merk sama, membeli cat dgn warna yg sama dan bahkan melukis obyek sama akan menghasilkan sebuah lukisan yang sama bagusnya.

Apakah hasilnya sama? Tentu tidak. Peralatan / gear tidak menentukan hasil karya seni

Ada satu yang tidak bisa dibeli yaitu perasaan sang pelukis ketika melukis. Perasaan inilah yang membuat lukisannya bagus dan hanya bisa didapat dengan SLR.

SLR, apaan tuh? SLR: Skill, Learn & Respect

Skill: kemampuan dan bakat. Tanpa dua hal ini, biasanya merupakan kendala yang besar bagi seseorang yang ingin jadi fotografer. Fotografi adalah seni sehingga kemampuan dan bakat seni merupakan syarat mutlak. Jadi jika anda tidak punya ini, maaf fotografi bukan jalan hidup anda. Mungkin anda bisa memotret tapi hasilnya tidak akan pernah bisa sebagus orang yang punya talenta seni. Saya sering banget denger cerita: sudah bertahun2 belajar motret tapi gak pernah bagus tapi ada orang yang baru dipinjemin kamera trus jepret eee hasilnya bisa lebih bagus daripada yg sdh belajar bertahun2. Inilah bakat! Gear tidak pengaruh.

Sedikit tips membeli kamera: jika pertama kali beli kamera, belilah “body only” kamera yang termurah di sebuah brand-nya dan belilah lensa yang bagus. Sekarang pada kebalik, belinya body kamera yang canggih tapi lensanya kit kan lebih baik bodynya murah tapi lensanya mahal. Bisa jadi kamu menghasilkan foto yang oke dgn kamera dan lensa yg muahal but no soul. Jadi periksa lagi, apakah kita punya bakat seni? Apakah kita punya kemampuan? Jika tidak tapi tetep pengen fotografer, ikuti tahap kedua yaitu: learn!

Learn: belajar! Fotografi tanpa belajar sama aja bohong. Harus seimbang antara ilmu dan praktek. Belajar akan menghasilkan pengetahuan (knowledge). But knowledge without skill is nothing! Harus seimbang ya. Saya agak banyak nemuin orang yang knowledge buanyaaak banget tapi hasil fotonya dikiiiit banget (hemat kali ya). Jangan cuman teori tapi harus praktek.

Salah satu cara belajar fotografi yang paling baik ya motret. Memotret apapun yang ada disekeliling kita sehari2. Saran saya ketika pertama kali belajar motret / pertama kali beli kamera adalah jangan memotret model / cewek2 dulu (ini buat cowok2), kenapa? karena model itu sesuatu yang indah untuk diabadikan, bayangin aja baru belajar motret udah motret sesuatu yang indah2 dimata. Ya kalo bagus, kalo nggak gimana? pastilah kamu stress dan frustasi krn hasilnya gak pernah bagus lama kelamaan kamu gak akan belajar lagi. Saran saya belajar motret dari hal2 yang ada disekeliling kita sehari: sekitar kamar: bantal, guling dll – sekitar rumah: gelas, piring, halaman, jalan, tanaman, batu, binatang, kendaraan dll. Kalo kamu udah bisa motret benda2 biasa bahkan jelek tapi terlihat indah, saat itulah kamu mulai bisa menyebut diri fotografer 😀

Seorang maestro fotografi Indonesia asal Jogja, Agus Leonardus berkata  pada saya: Kalo ada perempuan cantik trus difoto dan hasil fotonya cantik, itu motretnya bener apa salah hayoo? Jawabannya: SALAH! Kenapa? Lha wong sudah cantik ya pasti cantik, kecuali di foto jadi jelek nah itu keliru motretnya. Tapi jika kamu memotret seorang wanita yang berparas biasa bahkan jelek katakanlah dan hasil fotonya cantik, itulah fotografer yang sebenarnya. Ini lho yang saya maksudkan dengan jangan motret model dulu, tapi hal ini gak berlaku bagi orang yang memang belajar foto hanya untuk “mengkoleksi” foto2 cewek, peace… 😀

belajar bisa dari mana2:

  • internet, ini yang paling gampang. Banyak banget teori,tutorial dan video untuk pembelajaran fotografi
  • buku, ini juga ada di internet
  • tokoh2 fotografi
  • teman2 yang udah duluan motret, bisa gratis bisa juga mbayar (jangan nolak kalo ada temen yang mau ngajarin gratis, luangkan waktu kalo bs batalkan acaramu mumpung belajar gratis)
  • hunting bersama
  • lomba foto, ini juga belajar lho… nggak cuman ngejar hadiah
  • seminar2
  • sekolah dan kursus
  • wajib ikut komunitas
  • belajarlah dari gear yang rendah dulu, jangan langsung yang tinggi alias mahal

Respect: rasa hormat. Ini lho yang sekarang nyaris hilang diantara para fotografer. Rasa2nya antar fotografer hanya ada satu rasa yaitu: persaingan! Respect dalam hal apa aja?

  • Hormatilah fotografer yang lebih tua, walaupun tua secara umur belum tentu hasil foto kita lebih baik
  • Hormatilah sesama rekan fotografer, jangan melecehkan baik didepan maupun di belakangnya. Rekan fotografer bukanlah saingan bisnis. Semua punya lahan sendiri2.
  • Jangan menghina gear orang lain, misal tipe kameranya / lensanya lebih rendah trus ngejek2, lha emangnya kamera lebih bagus menjamin kualitas foto kita?
  • Jangan merendahkan orang yang sedang belajar motret tapi hargai, ajarin dan dampingin
  • Jangan menghakimi karya orang lain dengan alasan gear dan software, misalnya bercibir spt ini lha iya jelas bagus wong lensanya L series, leica dll atau bercibir foto orang lain bagus karena olah digital. Biarkanlah karya orang bagus, bagian kita menggunakan apa yang kita punya tapi berusaha menghasilkan foto yang bagus juga. Ingat jangan mengejar gear orang lain, artinya kita lihat foto orang lain bagus terus nanya pake lensa apa? terus berusaha memiliki juga lensa yang serupa. Ini mah gak akan ada habisnya bro… 😀 apa nanti kita ngejar sampe digital back? hehehe…
  • Jangan merasa hebat dulu, misal baru pegang kamera sebulan sudah berlagak fotografer. Kritik sana sini. Rendah hati kan lebih baik, ingat lho di atas langit masih ada langit.
  • Hormati karya foto orang lain. Bila bagus berilah pujian secukupnya tidak perlu berlebihan seperti: dahsyat! emang master! suhu! bla bla bla lebay tau.. Komenlah seperlunya
  • Jangan pernah mengkritik karya foto orang, kecuali diminta. Karena setiap orang punya sudut pandang yang berbeda2 tentang fotonya. Dan jangan mentang2 diminta kritik lalu nulis seenaknya diweb/blog, berilah saran dan kritk melalui pesan pribadi ya. Jangan maki2 foto orang di media online. Biasanya orang yang sering kritik adalah orang yang ngga bisa motret. Gak percaya? buktiin deh 😀 (sdh sering mbuktiin heheheh.. )
  • Jujur. Jangan memuji foto yang sebenarnya menurut kamu jelek, misalnya karena temen jadinya gak enak trus komen: bagus, woow…, jos, luar biasa, master, suhu dll. Jika memang dirasa itu kurang baik lebih baik gak usah komen nanti aja kalo pas ketemu baru ngobrolin sante. Sikap seperti ini tidaklah membantu bahkan menjerumuskan teman sendiri yang belajar motret. Jujurlah dihadapan teman kita, jangan memuji didepannya tapi dibelakangnya diejek2 bahkan jadi bahan olok2an. Jangan ya…
  • Tulus. Jangan memuji foto orang karena ada maunya, contoh yang motret punya gear2 bagus yang pengen dipinjem, trus foto2nya selalu dikomen, dipuji2 terus dengan harapan kita dipinjemin gearnya 😀 Atau yang punya foto punya jabatan penting, harapannya dengan memuji fotonya kita kecipratan hahahaha…. 😀
Nah ini adalah hasil perenungan pribadi selama saya belajar motret selama 15 tahunan sampai tercipta singkatan SLR tersebut. Ini hanya pendapat dan pengalaman pribadi saja (Bisa jadi pendapat ini terlalu pribadi, tidak subyektif bahkan sensitif) ambillah yang baek2 dan tidak bermaksud menyinggung siapa2 jika ada yang tidak setuju atau tersinggung mohon maafkanlah, ini murni hasil perenungan saya selama belajar moto.
Intinya adalah memotret sebenarnya tidaklah mudah (dalam hal ini saya bicara foto yang bagus, bukan foto dokumentasi pribadi) Kenapa sulit? karena hasil karya seni foto sebenarnya mencerminkan jiwa dan kepribadian kita. Jikalau jiwa kita sudah terkandung nilai seni, maka otonatis karya fotonya akan bernilai seni. Dari komposisi, sudut pemotretan, dof, poi semuanya akan terlihat indah.
Nah jangan patah semangat, belajar terus dan nabung untuk beli lensa yang bagus.
“Representasikan diri kamu dalam karya fotomu sehingga orang lain bisa melihat apa yang kamu rasakan, apa yang kamu tangkap, apa yang kamu ingin ungkapkan melalui karya seni fotomu”
So… Ayo motret teruuus… dan selamat  belajar motret ala S-L-R
salam jepret 😀

sunset lokal!

hehehe… emangnya ada sunset import?

saya sering terperangah kalo ngeliatin foto2 sunset di internet alias foto2 sunset diluar negeri, kayaknya gimanaaaa gitu… buagus banget! ya nggak?

Nah pertanyaannya kok kita jarang banget liat sunset begitu di tempat kita sendiri? biasanya cuman flare kekuningan atao terlampau silau dan tahu2 ilang tuh matahari. Konon, menurut apa yg saya baca katanya keindahan sunset tergantung banget pada iklim daerah tersebut. Katanya lagi bila cuaca berawan dan hari sebelumnya adalah hujan makanya bisa dipastikan sunsetnya bagus.

Kemarin tanggal 2 maret 2011 harinya puanas banget setelah dilanda hujan berhari2, ‘filling’ saya (caila!) setelah melihat awannya bagus disiang hari mengatakan bahwa sunsetnya bakal bagus nih. Dan ternyata benar! Foto2 dibawah ini diambil disekitaran rumah saya di daerah jatimulyo jl. magelang yogyakarta dalam waktu sekitar 8 menit sebelum kegelapan menyelimuti bumi. Setelah kebut2an pake motor untuk ‘mengejar matahari’ dan inilah hasil kebut2annya, enjoy…

bagus kan? 😀 kayak sunset diluar negeri! hehehehe ternyata sunset lokal juga bagus asal tempat dan waktunya tepat.

Data teknis: Kamera Sony Alpha 200 – Lensa Tamron SP AF 17-50/2.8 XR on 17/8 – iso100 – 5500K – AdobeRGB 000 – no filter – handheld

Olah digital: penggabungan 5 – 6 foto dengan teknik photomerge ditambah sedikit leveling – contrast & saturation

salam jepret – keep hunting!


Poster Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H

sebuah poster fotografi black and white, persembahanku bagi negriku:

selamat hari raya Idul Fitri 1431 H

Poster gratis boleh dipakai sebagai ucapan, printing, wallpaper dll