this is me

Photography

Studio Sinten Ubud Bali – studio foto adat Bali

Setelah 2 tahun sukses mengangkat tema Jogja tema doeloe  di Jogja kini Studio Sinten hadir di Ubud Bali dengan mengangkat tema “tradisionil Bali tempo doeloe” dengan rentang waktu 1930an.

Dari background yang dimiliki kita memaparkan hasil fotografi dalam suasana keseharian dan natural suasana Bali termasuk kebudayaan dan keseharian masyarakatnya.

Ada nilai yang kita bawa sebagai salah satu pelestari budaya , unsur pengenalan, pembelajaran dan pengalaman pribadi dalam budaya Bali.

Kami menggunakan property yang semirip mungkin dengan aselinya yang didapati dari referensi sejarah, sehingga bisa membangkitkan kenangan masa lalu akan Bali maupun suasana pedesaan tempat leluhur kita pernah hidup dan berkarya.

Hasil olah komputer untuk hasil akhir, memberi nilai tambah akan suasana Bali tempo doeloe yang sesungguhnya sehingga kita berasa berada dalam ruang waktu yang berbeda.

” Nikmati dan rasakan sensasi romantismenya Indonesia  tempo doeloe ” Hanya di studio Sinten Ubud Bali yang berlokasi di Jalan Cok Gede Rai no. 100 (sebelah Kmia Farma) Peliatan, Ubud – Bali 80571 – Info / Telp / SMS / WA / Line: 0811 757 8890, buka setiap hari pukul 10.00 – 17.00, kontak person: @tonihandoko 

Membidik dengan hati, mengabadikan kenangan anda dan menjadikannya lebih berarti

This slideshow requires JavaScript.


Jogja bersalju?

Hari jumat, tanggal 13 febuari 2014 pukul 22.50 Gunung Kelud Jawa Timur meletus, saya mendengar dentuman 3 kali padahal jarak Jogja gunung kelud lebih dari 250 km!

Hujan abu mengelimuti kota ini sejak hari itu juga, bahkan lebih tebal daripada letusan merapi 2010 silam.

Tapi inilah Jogja, kota dengan sejuta keindahan. Walau di deru hujan abu, kota ini masih bisa menampilkan keindahan dengan caranya sendiri, sebagai contoh foto ini saya ambil di jemabtan kali code di Jalan Sudirman Jogja tanggal 15 febuari 2014 jam 18.17 dan lihatlah seperti layaknya kartu pos dari sebuah pedesaan bersalju. Padahal ini adalah foto dimana Jogja sedang terselimuti oleh abu vulkanik dari gunung kelud.

Jogja.. memang istimewa!

salam dari jogja… 🙂


STUDIONE SINTEN: “Sebuah wisata mesin waktu romantisme Jogja tempo dulu”

“Jadul banget fotonya” demikian komentar konsumen setelah melihat hasil fotonya di kamera saya.

Studione SINTEN, adalah studio foto nuansa tradisionil Jogja tempo dulu yang baru dibuka lebaran tahun 2013 silam. Studio berkonsep Jogja tempo dulu ini berisikan barang2 antik aseli dari jaman dulu seperti gebyok / pintu dari abad 18, meja kursi lawasan, radio Biampli phillips, sepeda onthel gazele, mesin ketik, jam dinding mauthe, junghans, lemari naga, lampu kerek dan juga mainan2 bocah tempo dulu seperti: kuda lumping antik, suling, boneka lawas dan berbagai mainan tradisional lainnya.

Studio berukuran sekitar 4 x 5 m ini memanfaatkan semua sisinya sebagai latar belakang / background foto. Memang agak berbeda dari kebanyakan studio foto yang menggunakan kain sebagai backgroundnya karena di studione Sinten kami ingin menghadirkan suasana seperti keadaan aselinya pada jaman dahulu. Tidak hanya background tapi juga tata letak dan ornamen2 kecilpun disesuaikan dengan keadaan aselinya. Termasuk baju-baju ala Jogja tempo dulu seperti batik lawasan kami sediakan, tinggal pake untuk foto dan gratis. Tidak ketinggalan teknik foto dan olahan warna juga kami sesuaikan dengan konsep jadul  alias tempo dulu. Sampai-sampai beberapa konsumen berkata: “Ini seperti mesin waktu, karena dapat mengembalikan suasana dan kenangan Jogja tempo dulu”.

Jogja memang identik dengan tempo dulu, kota yang bersahaja – syahdu dengan segala budaya dan kearifan lokalnya. Kini Jogja telah berubah. Jogja yang dulu dikenal dengan arstitektur jawa-belandanya kini diserbu oleh ratusan hotel dan ruko dengan gaya arstitek yang NNB: ‘Nggak Njogjani Banget!”, belum lagi serbuan iklan / reklame dimana-mana yang menimbulkan sampah visual yang merusak pemandangan kota ini. Inilah salah satunya alasan kenapa studione Sinten dibangun, kami ingin mempertahankan ciri khas kota ini dalam skala kecil dari sudut pandang kami: tukang foto. Kami ingin para pengunjung merasakan bagaimana rasanya duduk2 ala Jogja tempo dulu sambil di foto, ya seperti foto dirumah sendiri, begitulah konsep fotonya. Karena inilah banyak wisatawan yang menjadwalkan liburan ke Jogja dengan berkunjung ke studione Sinten, sehingga menjadikannya sebagai tujuan wisata yang baru di Jogja.

Tampak depan studione sinten seperti gambar dibawah ini, terlihat dari perempatan Tugu Jogja 🙂

Aasinten front

Lokasinya persis sebelah barat tugu Jogja:

SONY DSC

Berikut ini beberapa contoh foto tradisionil ala Jogja tempo dulu:

This slideshow requires JavaScript.

 

Ingin mencoba tamasya mesin waktu ala studione sinten? monggo mampir ke

Studione Sinten

studio foto jang bernoeansa tradisionil Djogja tempo doeloe

Jl. Diponegoro 1B Yogyakarta 55232

Info: Tel 0274 54 4567  –  SMS | WA 08999 250 430  –  pin BB 2977 406A

galeri foto ada di facebook: studionesinten

Buka setiap hari mulai jam 11.00 – 22.00

 

Salam jadul… ^_^


Portrait kuda

Malioboro horse by toing djayadiningrat
Malioboro horse, a photo by toing djayadiningrat on Flickr.

Terkadang teman2 saya bertanya: “Bingung mau motret apa lagi ya?” sepertinya stok model sudah dihabiskan semuanya 😀

Saya selalu menekankan fotolah obyek2 disekitaran kita, foto bagus tidak harus model kok. Jika komposisi dan ambient lightnya pas, bisa jadi obyek foto yang menarik untuk dilihat.

Suatu sore saya berjalan di jalan malioboro jogja, bukan pertama kalinya saya lihat kuda di malioboro. Tapi kali ini saya tertantang untuk memotret kuda dengan harapan menjadi foto yang menarik. Pas waktu itu adlah menjelang senja jadinya langit masih biru dan lampu2 toko mulai menyala.

Saya mencoba memotretnya dari depan dengan background warna warni dibelakangnya, dan hasilnya taraaa…. ok juga hehehe…

kamera sony
FL 50mm

selamat mencoba


cek mention

cek mention by toing djayadiningrat
cek mention, a photo by toing djayadiningrat on Flickr.

Seorang teman mengundang saya untuk melihat pameran sekar jagad yaitu pameran batik keraton yogyakarta di puro pakualaman yogyakarta. Dan kali ini cukup istimewa karena saya bisa datang di hari pertama pameran dimana hanya tamu undangan khusus yang bisa datang. Pameran ini diadakan selama 3 hari, dimana 2 hari terakhir dibuka untuk umum.

Disela-sela pameran saya lihat sekelompok sepuh yang sedang memainkan gamelan dengan sangat lihainya, sehingga saya sempat terpaku untuk melihat mereka memainkan gamelan tersebut. Dan pada saat rehat sejenak saya lihat seorang bapak penabuh gendang tiba-tiba mengeluarkan ponselnya untuk sekedar mencek mention2nya hehehe..

Buat saya ini adalah momen unik dan segera saja saya menjepretnya dengan kamera yang sudah ‘on’ ditangan saya.

Pin BBnipun pinten pak? 🙂


vintage morning @ kotagede

Lewat foto ini saya mencoba mengajak anda merasakan suasana pagi dan hiruk pikuk kota tua: Kotagede Yogyakarta, Indonesia.

Kotagede adalah sebuah kota tua kecil di pinggiran kota Yogyakarta. Kerajinan perak dari kota ini sangat terkenal di seluruh dunia karena keunikan desainnya. Lorong-lorong pemukiman kota ini sangat indah diabadikan. Semoga postingan kedepan saya bisa menyajikannya untuk anda


Teknik foto macro sederhana

hai.. ketemu lagi. Mau sharing ya..

Sebelumnya definisi foto makro menurut “Pak Guru Wiki” adalah: Macrophotography is close-up photography, usually of very small subjects. Classically a macrophotograph is one in which the size of the subject on the negative is greater than life size. However in modern use it refers to a finished photograph of a subject at greater than life size.

Yang intinya adalah teknik foto dengan membesar obyek yang sangat kecil dengan bantuan lensa makro. Sedangkan menurut saya secara pribadi foto makro bukan hanya sekedar teknik membesarkan gambar tapi juga menangkap seni keindahan dari obyek yang kita besarkan tadi. Misal motret makro semut, foto makro bukan hanya membesarkan foto semut jadi gede, tapi menangkap keindahan dari semut2 tadi apakah mereka lagi gandengan, makan, pacaran, nyante, nari, dangdutan dll. Gimana caranya? Itulah yang sulit.. nungguin mereka 😀

Genre fotografi makro adalah salah satu genre yg belum pernah saya lakukan, kenapa? karena saya nggak begitu suka dengan foto macro akibat gak punya lensa macro hehehe… Tapi setelah kesekian kalinya di tag temen2 dgn foto macro mereka akhirnya saya jadi gatel juga pengen motret makro.

Tapi aku gak punya pulsa… eeh salah…  gak punya lensa makro? trus gimana? Setelah ngubek forum dan internet akhirnya saya coba simpulkan beberapa cara memotret makro:

1. Cara paling ampuh: beli lensa makro hehehe.. ada bermacam2 lensa macro, biasanya lebih dari 3 juta. Konon semakin mahal semakin baik 🙂 Saran saya: belilah lensa makro dengan FL dan bukaan yang fix, misal: 50/2.8, 50/3.5, 60/2.8, 85/1.8, 90/2.8, 105/2.8, 180/2.8 dst

sumber gambar: the-digital-picture.com

.

2. Dengan filter close up, cara ini sangat sederhana dengan memasangkan filter dilensa kita tapi kekurangannya gambarnya kurang tajam dan bluring diarea pinggir.

Contoh hasil Lensa Pentax SMC 28/3.5 (sangat baik ketajamannnya) ditambah filter close up 1-2-3:

 sumber gambar: koleksi pribadi

Contoh hasil dengan lensa Minolta AF 50/1.7 ditambah filter close up 1-2-3:

 sumber gambar: koleksi pribadi

penjelasan teknisnya

 sumber gambar: wikipedia

.

3. Dengan reverse ring, yaitu memasang terbalik lensa dibody kamera. Cara ini cukup ampuh dan murah. Kekurangannya: pembesarannya kurang ektrim, tajam hanya di area tengah saja dan sekelilingnya blur.

Contoh Leica Summicron 50 dengan teknik reversed lens:

 sumber gambar: koleksi pribadi

sumber gambar: dps

.

4. Dengan bantuan below dan reverse ring, cara ini adalah update dari no 3. Dengan bellow pembesaran bisa diatur sesuai dengan yang kita inginkan

 sumber gambar: wikipedia

.

5. Dengan kombinasi lensa makro yang dikombinasi dengan lensa fix prima (yang bagus) yang dipasangkan terbalik (reverse). Cara ini konon adalah cara motret yang terbaik untuk mendapatkan hasil dan pembesaran obyek yang maksimal. Kekurangannya adalah mahal! 😀

   sumber gambar: wikipedia

.

6. Dengan menaruh kaca pembesar (lup) didepan lensa kita, saya kurang rekomendasi cara ini karena hasilnya kurang tajam dan muncul CA yang sangat tinggi. Cara ini mirip dengan filer close up hanya saja lensa dari kaca pembesar terkadang kurang baik kualitasnya sehingga hasilnya kurang baik. Tapi buat ingin coba2 motret makro tanpa harus membeli aksesoris tambahan cara ini sangat layak untuk dicoba supaya bisa merasakan sensasi motret makro 🙂

contoh hasil Leica Summicron 50 plus kaca pembesar: hasil kurang tajam, CA dan bluring dipinggiran. Ini adalah tanaman mikro yang biasa tumbuh di dinding berlumut

 sumber gambar: koleksi pribadi

.

7. Dengan extention tube, cara ini adalah menambahkan semacam tabung diantara lensa dan kamera kita yang intinya menjauhkan titik jatuh obyek di sensor sehingga didapatkan pembesaran obyek yang cukup ekstrim. Nah cara ini yang saya pake, yaitu menambahkan extention tube ke lensa fix saya. Kekurangannya adalah harus bongkar pasang untuk memperoleh pembesaran yang kita inginkan dan  tidak jalannya fungsi AF tapi gak masalah karena lensa yang saya pake adalah lensa manual. Biayanya? cuman 90-100 ribuan! Cukup murah kan?

Extention tube:

 sumber gambar: koleksi pribadi

Penampakan kamera yang saya pake: kamera Sony A200 + Extention tube + Leica Summicron 50/2

 sumber gambar: koleksi pribadi

penjelasan teknisnya

 sumber gambar: wikipedia

.

Berikut hasil foto makro dengan data teknis: kamera Sony A200 + Extention tube 123 + Leica Summicron 50/2.

Semua tanpa crop, available light & editing menaikan level sedikit.

ulet bulu lagi makan siang 🙂

.

red dragon fly, nungguin 3 hari di sawah sampe doi datang

.

ini adalah ujung rumput liar

.

ups… the end of the road

.

baru tahu kalo kepik ada bulu2 halusnya 🙂

.

si belalang coklat, varian belalang yang paling banyak

.

mungkin ukurannya cuman 3mm tapi luar biasa detailnya..

.

reversed making love? hehehe…

.

Sedikit tips ketika memotret makro:

1. Gunakan bukaan terkecil (diatas f8) untuk memperbesar dof, karena di fotografi makro dof amat sangat sempit sekitar sepersekian milimeter.

2. Untuk itu memotret dikala terang adalah waktu yang terbaik, jika tidak bisa menggunakan lampu tambahan seperti ring flash dll

3. Sabar. Memotret makro bukan seperti kita memotret model yang bisa kita arahkan, jadi harus sabar menunggu “modelnya” satang dan beraksi.

4. Jangan bunuh atau racunin serangga demi mendapatkan foto! Berusahalah sealami mungkin walaupun directing macro tidak dilarang.

Nah semoga tulisan ini bermanfaat.

selamat mencoba dan berkaryaaaa 🙂