this is me

digital editing – imaging – manipulatin

Studio Sinten Ubud Bali – studio foto adat Bali

Setelah 2 tahun sukses mengangkat tema Jogja tema doeloe  di Jogja kini Studio Sinten hadir di Ubud Bali dengan mengangkat tema “tradisionil Bali tempo doeloe” dengan rentang waktu 1930an.

Dari background yang dimiliki kita memaparkan hasil fotografi dalam suasana keseharian dan natural suasana Bali termasuk kebudayaan dan keseharian masyarakatnya.

Ada nilai yang kita bawa sebagai salah satu pelestari budaya , unsur pengenalan, pembelajaran dan pengalaman pribadi dalam budaya Bali.

Kami menggunakan property yang semirip mungkin dengan aselinya yang didapati dari referensi sejarah, sehingga bisa membangkitkan kenangan masa lalu akan Bali maupun suasana pedesaan tempat leluhur kita pernah hidup dan berkarya.

Hasil olah komputer untuk hasil akhir, memberi nilai tambah akan suasana Bali tempo doeloe yang sesungguhnya sehingga kita berasa berada dalam ruang waktu yang berbeda.

” Nikmati dan rasakan sensasi romantismenya Indonesia  tempo doeloe ” Hanya di studio Sinten Ubud Bali yang berlokasi di Jalan Cok Gede Rai no. 100 (sebelah Kmia Farma) Peliatan, Ubud – Bali 80571 – Info / Telp / SMS / WA / Line: 0811 757 8890, buka setiap hari pukul 10.00 – 17.00, kontak person: @tonihandoko 

Membidik dengan hati, mengabadikan kenangan anda dan menjadikannya lebih berarti

This slideshow requires JavaScript.

Advertisements

The BW art of Mercedes W124

iseng2 nemu brosur tua mercedes bens 1984 diubah djadi BW art.

Ni dia brosurnya

dan diutak atik jadi gini:

Banyak orang menyebut mercy seri ini adalah The Real Mercedes! Mungkin karena tampilannya yang gagah


bedah buku: Directing by AHD

Buku fotografi adalah salah satu tema buku langka di era 80-90an tapi setelah era digital fotografi mendadak buku tentang fotografi berjibun jumlahnya di toko buku. Kasusnya mirip dengan buku desain grafis yang dulu sangat langka tapi sekarang jumlah judulnya luar biasa. Ini terjadi karena digital fotografi berkembang selaras dengan perkembangan digital imaging yang merupakan cabang dari desain grafis. Coba ingat, yang dulu yang belajar Adobe Photoshop versi 2 atau 3 dijamin gak bakalan nemu buku “Belajar Photoshop 3” atau “Digital Imaging Dengan Photoshop 2” atau “Membuat logo dengan Corel Draw 3” di toko buku lokal kan? Tapi sekarang buku yang membahas photoshop CS series barangkali ada  1000 judul 🙂 Demikian juga dengan buku fotografi, jaman dulu seingat saya tip dan trik hanya di dapat dari majalah fotografi atau seminar2 fotografi. Jarang sekali yang membahas tentang trik fotografi manual di jaman itu dalam bentuk buku. Tapi sekarang, wuiih buku fotografi di satu toko buku aja ada 2 rak dengan ratusan judul!

Tapi sayangnya ada kesamaan diantara pesatnya perkembangan kedua jenis buku tersebut yaitu isi / konten yang dibahas mirip2 satu dengan yang lain, bahkan itu-itu saja.

Buku fotografi yang saya suka adalah jenis photobook, dimana buku tersebut hanya memuat karya2 foto dari salah satu fotografer. Kenapa saya menyukai photobook? Karena dari karya foto saya bisa belajar banyak. Nah photobook jumlahnya di Indonesia termasuk sangat sedikit dan sayangnya tergolong buku  muahal 😦

Nah, kira-kira 2 bulan yang lalu: Aryono Huboyo Djati yang biasa saya panggil pak Djati atau om AHD memberitahukan dalam sebuah pertemuan singkat di Jogja bahwa dia sedang membuat sebuah buku. Wah terus terang saya menunggu2 buku tersebut di terbitkan karena saya suka dengan gaya pemotretan AHD yang berkarakter sangat kuat yang bercirikan AHD banget 🙂 Aryono Huboyo Djati, siapa tuh? Buat yang belum tahu, om AHD ini selain fotografer dia adalah seorang komposer terkenal. Lagunya yang sangat terkenal adalah “Burung Camar” yang dinyanyikan Vina Panduwinata dan “Lirih” adalah lagu terakhir yang dinyanyikan oleh alm. Chrisye sebelum wafat. Pak Djati juga fotografernya pak JK wakil presiden kita dulu. Gayanya yang sederhana dan foto2nya berkarakter kuat membuatnya menjadi panutan untuk foto2 saya, thanks pak Djati, you’re my inspiration..

Buku pertama dari 3 buku yang rencananya akan diterbitkan adalah berjudul: “DIRECTING” setebal 136 halaman yang diterbitkan oleh Gramedia grup. Buku ini merupakan kolaborasi dari knowledge book dan photo book.

Disini AHD menunjukan kepiawaiannya mendirect sahabatnya Atalarik Syach yang juga  pemenang aktor terbaik Panasonic Global Award 2011 sebagai model dalam bukunya kali ini. Gaya AHD yang khas dan berkarakter kuat dikupas rahasianya dibuku ini.

Dalam buku ini AHD mengajarkan teori dasar fotografi yang dikupas sederhana tapi jelas tajam dalam bentuk foto-foto yang diberi sedikit sentuhan teori fotografi seperti: The Rules od Third, Elemen Penyeimbang, Leading Lines, Pola & Simetris, Sudut Pandang, Latar Belakang, Depth of Field, Framing, The Rules of Odds, The Rules of Space dan Komposisi.

Elemen penyeimbang:

.

Latar belakang:

.

The Rules of Odds

.

The Rules of Space

.

Pola & Simetris

.

Ada juga beberapa istilah yang mungkin asing di telinga kita, tapi AHD menjelaskannya dalam buku ini begitu simpel sehingga sangat mudah untuk dimengerti dan dipraktekan seperti: Leading lines, Ad Lib of third, Ad Lib of Space, Ad Lib of Odds, Potret, Teori Gestalt.

Leading lines:

.

Teori Gestalt

.

Ad Lib of Space

.

Di sebagian kalangan fotografi, konsep directing seringkali dianggap tabu dengan alasan tidak alamiah dan kurang spontan maka directing sering diabaikan bahkan ditolak. Tapi lewat buku ini AHD membuka wawasan tentang pentingnya konsep directing dalam fotografi. Directing ala AHD meliputi beberapa hal seperti: komunikasi dengan subyek, persiapan pose, bahasa tubuh, menangkap dinamika perasaan, mengenal modelnya, menciptakan moment, I believe in God the Almighty Creator, Passion, Patience dan pencahayaan.

.

Pada bab terakhir AHD menjelaskan pentingnya memilih tempat yang baik untuk pemotretan, tidak semua tempat menarik bisa menjadi pilihan terbaik untuk  pemotretan. Disini juag dijelaskan pentingnya menggunakan pencahayaan alami dan mempersiapkan alternatif tempat.

Pencahayaan alami:

.

Foto saat peluncuran buku tanggal 21 Desember 2011 di Gramedia:

.

pak Aryono Huboyo Djati / AHD menunjukan bukunya:

.

penulis bersama pak djati /AHD (kiri)

Kesimpulan saya:

RECOMMENDED PHOTOGRAPHY BOOK!

Buat saya ini buku fotografi yang berbeda, yang smart karena merupakan photobook yang diberi sedikti teori tapi berbobot. Tidak terlalu banyak kata-kata tapi seimbang dengan hadirnya contoh-contoh foto yang menerangkan lebih banyak dari pada teori-teori fotografi yang ada di buku ini. Lewat sampel foto2nya AHD menantang pembacanya untuk membuat karya foto yang lebih baik lagi, walaupun ada beberapa istiah yang tidak lazim didengar tapi lewat pemaparan AHD yang sederhana dan sampel foto yang menerangkan teori2 tersebut membuat pemahaman akan istilah2 tersebut sangat mudah untuk dipahami.

Penasaran isinya lebih lanjut? Silahkan ke toko buku terdekat

Selamat membaca dan berkarya..

.

Foto-foto copyrights ©2011 Aryono Huboyo Djati | All rights reserved

sumber foto: AHD


worldwidemoment 11-11-11 at 11:11(NY) or 23:11(WIB)

worldwidemoment ada lagi… worldwidemoment adalah momen dimana kita mengabadikan foto apa saja pada waktu yang sama diseluruh dunia pada waktu yang sama, misal tahun lalu waktunya adalah tanggal 10 bulan 10 tahun 2010 pukul 10:10 GMT, jika saya di Yogyakarta maka waktunya dikonversikan menjadi pukul 17:10 WIB dan ini hanya terjadi sekali dalam seumur hidup!

setelah mengikuti worldwidemoment tahun lalu 10-10-10 @10:10 GMT / 17:10 WIB dan thanks God foto saya terpilih bersama 50 fotografer dunia untuk dipublikasikan di snapixel untuk majalah edisi spesial worldwidemoment 2010

Nah tahun ini, saya pikir kegiatan ini tidak ada karena beberapa kali saya berkunjung ke websitenya tapi tidak ada update pengumuman apa2. Kemudian tiba2 tanggal 9 November 2011 saya diemail oleh director WWM2011 memberitahukan bahwa kegiatan WWM2011 diadakakan tapi dengan pusat waktu yang berbeda. Kalo dulu pusat waktunya adalah greenwich dan sekarang mungkin karena panitianya ada di New York maka pusat waktu kegiatan ini di tentukan di New York 11-11-11 at 11:11 EST (New York time) jika dikonversikan ke Yogyakarta menjadi jam 23:10 WIB.

Saya memutar otak dalam waktu yang sempit ini bagaimana mengabadikan wwm yang hanya sekali terjadi seumur hidup ini. Tahun lalu saya ingin menceritakan pada dunia apa yang terjadi di daerah Tugu Jogja pada pukul 10:10 GMT / 17:10 WIB. Nah tahun ini Jogja kebagian konversi jamnya menjadi 23:10 WIB widiih hampir midnight tuh, moto apa coba? Saya muter2 Jogja cari inspirasi, bahkan sampe jam 12 malam masih muterin Jogja siapa tau dapet wangsit sambil test foto sana sini. Sampe sehari sebelum waktunya tiba, saya iseng jalan ke malioboro trus pulangnya saya melawan arus lewat jalan mangkubumi (jangan ditiru ya hihihi..) nah pas lewat jl mangkubumi ini tiba2 saya dapat inspirasi, dan ini dia inspirasinya:

yup sebuah jam antik yang saya kira udah gak jalan lagi ternyata masih jalan! maklum dulu pertama kali ke Jogja tahun 1988 jam ini sudah terlihat tua didepan sebuah toko buku tua di jalan mangkubumi Jogja. Nah ini dia ide untuk WWM2011: saya ingin membuktikan bahwa saya benar2 memotret pada jam itu (tidak hanya terlihat di data exif) dan benar2 ada di Jogja, dan inilah hasilnya:

Sudut pengambilan dirancang dari arah selatan dan low angle dimaksudkan supaya terlihat jelas tulisan jogja dan bayangan jarum besar tepat di angka 11. Sebenarnya sudut ini dimabil supaya bulan purnama terlihat disisi kanan atas tapi ternyata lensannya kurang wide jadinya gak keliatan deh bulannya 🙂 Difoto pake kamera Sony A200 | Yashica ML 50/1.4 | f1.4 | 1/30s | iso100 | 3500K + tripod + kacang goreng buat snack sambil nungguin jamnya 🙂

dan ini hasil screen capture dari websitenya worldwidemoment:

hehehe lumayanlah udah ikut partisipasi 2 kali dalam WWM yang sudah 3 kali diadakan sejak 2009, barusan juga diemail oleh 11-11-11-project katanya fotoku masuk dalam buku mereka yang versi cetak 🙂 11-11-11project ini lebih komplit karena mengabadikan foto, audio dan video yang terjadi pada 11-11-11 @11:11 EST

Jangan lupa ikut yang tahun depan ya, karena tahun depan adalah yang terakhir yang baru bisa diulang 1000 tahun lagi 😀

selamat berkarya



Teknik mengubah foto menjadi lukisan cat air (watercolor painting)

haloo… 😀

sharing yaa….  ini die salah satu teknik sederhana manipulasi digital dengan adobe photoshop mengubah foto menjadi lukisan cat air ( water color painting). Tekniknya cukup sederhana yaitu dengan kontras foto yg cukup di blending dengan gambar cat air. Yang perlu diperhatikan adalah komposisi gelap terang foto yang akan diubah, harus pas ya spy menghasilkan efek kuasan cat air yg menawan ( ini butuh latihan dikit)

Pertama2 siapkan dulu foto yang akan kita proses, disini saya pake fotonya Mbah Mangun salah satu penghuni hunian sementara pengungsi merapi di dusun ngancar Lereng Merapi yang saya ambil beberapa bulan yang lalu.

Lebih mudah jika fotonya adalah hitam putih. Crop fotonya sesuai kebutuhan seperti di bawah ini.

2. Kemudian buang bagian backgroundnya dan naiknya nilai kontrasnya supaya didapat gelap terang yang cukup tegas di wajah sehingga nampak detail bagian mana yang akan ditonjolkan. Disini bisa pake level, brightness contras, curve dll. Saya pake level aja ya

3.Setelah itu gunakan filter efek water color: filter/filtergallery/watercolor. Atur slidernya sampe pas dihati kamu 🙂

(catatan: jika dirasa gambar kamu terlalu flat alias kurang kontras, bisa ditambahkan efek threshold pada gambar aselinya lemudian diblend mode multiply ke gambar yang sudah diberi efek water color

4. Cari gambar2 water color splitter di internet (yang free ya) ato bisa bikin sendiri pake kuas kemudian discan, kumpulkan beberapa yang pas dengan selera kamu dan disatukan menjadi satu layer dengan mode multipy seperti gambar di kanan bawah ini

5.Habis itu load selection gambar mbah mangun yang sudah siap tadi lewat channel RGB dan buat sebagai layer mask di gambar water color tadi, dan jreeeng.. gambar watercolornya sudah jadi! cepat kan?

6. Beginilah urut2an layernya

7. Untuk hasil akhir bisa ditambahkan beberapa ornamen seperti texture, typography dan frame supaya lebih sedap dipandang

Penting untuk diingat sekali lagi:

Hal yang menentukan di sini adalah penentuan gelap terangnya gambar (langkah ke 2), bila dirasa kurang cobalah ulangi lagi langkah2nya supaya didapatkan hasil akhir yang menawan. Bila hal ditas dirasa terlalu sederhana ini adalah versi expertnya: portrait painting

disadur ulang dari sini

Nah selamat mencoba ya…. 🙂


Mewarnai foto BW dengan Photoshop

Just want share…

Biasanya jaman sekarang untuk membuat foto BW tinggal menjepret dengan kamera dalam mode warna kemudian mengubah menjadi BW di komputer dengan sekali klik! Nah bagaimana jika sebaliknya? Hehehe jangan harap sekali klik jadi, prosesnya cukup puanjang dan laamaaa…. Prosesnya melalui baik editing maupun manipulasi digital. Banyak cara untuk mewarnai foto hitam putih dengan Adobe Photoshop, salah satunya adalah dengan mengambil warna dari foto lain. Dengan cara menumpuknya di layer dan mengambil warna yang kita inginkan dengan blending dan masking.

Berikut caranya:

Pertama2 pastikan dulu mau dijadikan foto berwarna seperti apa nantinya. Disini saya mau bikin foto berwarna bernuansa lukisan etnik dan vintage. Kemudian pastikan juga bahwa foto BW yang akan diwarnai sudah benar secara aturan fotografi, misalnya fokusnya benar, dofnya pas, komposisi, gelap terang sudah ok dll. Editlah foto BWmu bila perlu untuk memperindah dan memperkuat ‘mood’nya.

Data teknis foto dibawah ini: Sony A200 | Leica Summicron 50/2 | 1/30s | iso400 | 4900K | Black and white mode: 0 – 0 – 0 | AdobeRGB | no flash

Untuk memperkuat kesan ‘njawani’nya bisa ditambahkan ornamen2 yang kental unsurnya jawanya misal: tulisan jawa, ukir2an, jogjlo, batik dll. Disini saya pake yang pertama adalah tulisan jawa yang saya ambil dari serat lokapala (bebas kok pake apa aja yang penting huruf hanacarakanya kuat).

kedua ditambahkan ornamen batik

ketiga saya tambahkan foto yang bisa menambah brightness sekaligus memperkuat unsur jawa, yaitu halaman buku bertulisakan jawa yang terbuka

setelah foto BWNya dirasa cukup kuat, baru dimulai proses pewarnaanya. Disini saya pilih foto yang bisa mewakili warna dasar skintone dan warna nuansa yang kita inginkan, saya gunakan background foto yang bernuansa vintage dengan warna dominan hijau muda supaya didapat nuansa hijau vintage pada hasil akhirnya

Berikutnya ini yang paling penting adalah pemilihan foto sebagai warna skintone. Saya memilih foto background dengan warna coklat keemasan yang paling mendekati dengan skintone dan vintage color. dan hasilnya cukup mendekati skintone yang saya inginkan.

Untuk mempertegas foto saya gunakan background bercak + vignette + noise

Manipulasi terakhir adalah mempertegas kembali unsur ‘njawani’nya dan nuansa warna yang kita inginkan saya menambahkan gambar dengan unsur jawa dan warna yang kuat: gunungan batik berwarna coklat

Kemudian saya adjust kembali warnanya supaya lebih nonjok 🙂

hasil akhir:

Jangan lupa untuk melakukan masking pada setiap layernya untuk mendapatkan hasil seperti yang kita inginkan, mode blending dan opacitynya sudah tersedia diatas. Sebenarnya blending dan opacity itu tergantung dari selera kita masing2 jadi jangan dijadikan patokan ya, coba2 siapa tahu hasilnya lebih bagus 🙂 Dan untuk pemanisnya bisa ditambahkan coklat bubuk eh salah.. border painting atau old film supaya jadi lebih sedap dipandang.

Gambar2 background bisa dari foto sendiri dan bisa ambil dari internet tapi yang free ya

Ringkasan susunan layer seperti ini, total ada 20 layer

semoga bermanfaat 🙂

©2011 tonihandoko – All rights reserved